Artikel 21 May 2026

Ketika 40 Pemuda Berdiri di Garis Depan Abrasi: Catatan dari Youth Voluntary Camp 2026

Jericho Carolla Sembiring

Jericho Carolla Sembiring

Tim Redaksi IYES

Ketika 40 Pemuda Berdiri di Garis Depan Abrasi: Catatan dari Youth Voluntary Camp 2026

Ada sesuatu yang sulit dilupakan ketika pertama kali menginjakkan kaki di Pantai Bahtera, Kelurahan Guntung, Dumai. Di sana, batas itu terlihat jelas dengan mata telanjang: di titik yang ditumbuhi mangrove, tanah masih berdiri teguh. Di titik yang gundul, daratan telah habis ditelan laut.


"Agak serem, agak sedih," kenang Viola Amalia Nabila, mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Riau yang menjadi salah satu peserta YVC 2026. "Pas malamnya, itu benar-benar cuma daratan, pantai, dan langsung laut lepas. Tiap malam deburan ombaknya langsung menghantam bagian daratannya pas air pasang. Tidak ada yang nahan."


Kekhawatiran itu bukan sekadar perasaan. Menurut data yang dihimpun Rumah Mangrove, komunitas pegiat lingkungan pesisir yang berdiri sejak Desember 2023 dan menjadi mitra komunitas IYES dalam kegiatan ini, abrasi di Kelurahan Guntung terjadi dengan laju rata-rata 1,5 meter per tahun pada 2024 dan meningkat menjadi 1,8 meter per tahun pada 2025. Artinya, dalam dua tahun saja, lebih dari tiga meter daratan telah lenyap secara permanen. Kebun-kebun warga di pinggir pantai habis diterjang. Hasil tangkapan laut menurun karena ekosistem mangrove sebagai tempat berkembang biaknya biota laut terus menyusut. Rumah-rumah di dekat pesisir sering dilanda banjir karena tidak ada lagi yang memecah hantaman ombak sebelum mencapai daratan.


Di sinilah IYES Foundation memutuskan untuk hadir. Dalam proses kurasi tema Youth Voluntary Camp 2026, beberapa isu sempat dipertimbangkan, mulai dari pendidikan hingga perdamaian. Namun, kondisi pesisir Dumai dinilai paling mendesak untuk direspons. IYES kemudian menghubungi jaringan mitranya dan menemukan Rumah Mangrove melalui komunitas Generasi Bank Indonesia (GenBi) yang sebelumnya pernah berkegiatan di lokasi yang sama. Kemitraan itu menjadi fondasi pelaksanaan YVC 2026.


Sebanyak 40 pemuda terlibat langsung dalam kegiatan ini, terdiri dari 12 peserta dan 28 panitia. Mereka turun ke lokasi, memasuki lumpur, dan menanam bibit mangrove satu per satu. Dari target 250 bibit, sebanyak 180 bibit berhasil tertanam, sebuah langkah kecil yang menurut Rumah Mangrove memiliki arti besar bagi garis pantai yang terus tergerus. Jenis yang dipilih adalah Avicennia sp. dan Sonneratia sp., dua varietas yang paling adaptif untuk zona pertama penanaman, yakni garis terdepan yang berhadapan langsung dengan ombak.


Bagi banyak peserta, pengalaman ini jauh melampaui sekadar menanam. Aprillia Sukma, peserta fully funded dari program ini, mengaku datang dengan pengetahuan yang masih sangat terbatas. "Sebelum ikut kegiatan ini, aku cuma tahu fungsi mangrove itu ya cuman sekadar nahan abrasi doang," ujarnya. Setelah mengikuti sesi FGD, diskusi tentang kebakaran hutan dan lahan, hingga terjun langsung ke lumpur pantai, pandangannya berubah. Ia kini paham bahwa mangrove bukan hanya pelindung daratan, tapi juga penopang kehidupan laut, penyangga ekonomi warga pesisir, dan ekosistem yang jauh lebih kompleks dari yang pernah ia bayangkan.


Viola pun merasakan pergeseran yang sama. Sebelumnya, pengetahuannya soal abrasi dan mangrove masih di permukaan. Setelah YVC, ia pulang dengan perspektif baru dan satu tekad sederhana namun konkret: mengajak orang-orang di sekitarnya untuk mulai dari hal kecil seperti membawa tumbler, mengurangi plastik, tidak membuang sampah sembarangan. "Mungkin hal-hal kecil kayak gitu yang bisa aku mulai dari sekarang," katanya.


Soal keberlanjutan, IYES Foundation menegaskan bahwa komitmen mereka tidak berhenti pada hari penanaman. Pemantauan perkembangan 180 bibit yang telah tertanam akan dilakukan secara berkelanjutan bersama Rumah Mangrove sebagai mitra lokal yang turun langsung ke lapangan. Ini penting, mengingat salah satu tantangan terbesar dalam menjaga ekosistem mangrove adalah minimnya keterlibatan aktif masyarakat sekitar dalam proses perawatan jangka panjang. Rumah Mangrove sendiri, yang sejak berdiri telah menanam lebih dari 4.000 batang mangrove di Kelurahan Guntung, menyadari betul bahwa keberhasilan pemulihan pesisir bergantung tidak hanya pada jumlah bibit yang ditanam, tetapi pada seberapa kuat ekosistem penjaganya baik yang tumbuh dari tanah, maupun yang tumbuh dari kesadaran manusia di sekitarnya.


Bagi IYES Foundation, Youth Voluntary Camp bukan sekadar program penanaman. Ini adalah ruang bagi pemuda Indonesia untuk membuka mata, merasakan urgensi isu lingkungan secara langsung, dan pulang sebagai individu yang lebih sadar akan perannya. "Pemuda adalah masa depan bagi negeri ini," kata tim IYES. "Dan masa depan itu harus dibangun dari aksi nyata hari ini."



Tim Medkom

MEDKOM

"Crafted with precision, fueled by coffee, and built with Medkom ❤️ for IYES Foundation."